Tes
kompetensi kebahasaan adalah tes yang dimaksudkan untuk mengungkap pengetahuan
kebahasaan siswa. Kompetensi kebahasaan seperti yang dikemukakan sebelumnya
adalah meliputi pengetahuan tentang sistem bahasa, struktur, kosa kata, dan
seluruh aspek kebahasaan yang ada. Kompetensi kebahsaan perlu diajarkan dan
diteskan secara khusus karena dapat dipandang sebagai prasyarat untuk menguasai
kompetensi komunikatif dan atau tindak berbahasa, baik yang bersifat reseptif
maupun produktif, walaupun cenderung bersifat diskrit. Tes ini dapat juga
bersifat integratif, tetapi biasanya masih bersifat artifisial.
Tes
kompetensi kebahasaan yang terpenting karena sangat dibutuhkan dalam tindak
berbahasa adalah struktur dan kosa kata.
Penyusunan tes untuk keduanya hendaknya dengan mempertimbangkan masalah
pemilihan bahan dan pemilihan bentuk dan strategi untuk mengungkap
tingkatan-tingkatan aspek kognitif. Pemilihan bahan yang diteskan hendaknya
bersifat mewakili bahan yang telah diajarkan agar alat tes yang dihasilkan
dapat diharapkan memberikan informasi yang bias dipertanggungjawabkan.
Pemilihan
bahan untuk tes struktur hendaknya dipertimbangkan dari segi tingkat dan jenis
sekolah, isi kurikulum, dan buku pelajaran, tujuan tes, serta status bahasa
yang diajarkan. Hal-hal tersebut juga berlaku
dalam pemilihan bahasn tes kosa kata. Di samping itu perlu adanya pertimbangan
dari segi tingkat kesulitan kata, kosa kata pasif dan aktif, umum, khusus, dan
ungkapan-ungkapan.
Tingkat
kesulitan kata ditentukan berdasarkan kekerapan pemakaian suatu kata, walau
cara ini hanya diambil dari data tertulis saja, bahan yang berbeda-beda, dan
tidak mengabaikan adanya berbagai dimensi makna dalam sebuah kata. Penyusuanan
tes struktur dan kosa kata hendaknya meliputi berbagai tingkatan kognitif
Bloom, dan jangan hanya sampai beberapa tingkatan awal saja. Tes struktur dapat
meliputi tingkat ingatan (C1) dampai tingkat evaluasi (C6). Sedangkan untuk tes
kosa kata, dengan pertimbangan tertentu, sampai pada tingkatan analisis (C4).
Pembedaan
bahan untuk keenam tingkatan kognitif terutama di tentukan oleh kompleksitas
bahan dan aktivitas kognitif yang dituntut untuk mengerjakan butir-butir tes
yang bersangkutan. Kecenderungan membuat soal yang hanya bersifat ingatan
hendaknya dibatasi karena hanya mempu mengungkap kemampuan kognitif yang
sederhana, mudah dilupakan, bersifat dangkal, dan belum tentu siswa dapat
memahaminya sungguh-sungguh. Tes tingkat ini hanya berupa penyebutan definisi
dan fakta.
Erbagai
tingkat kognitif tes struktur dan kosa kata pada prinsipnya disusun dalam tes
bentuk objektif dan esai. Akan tetapi, untuk tingkatan kognitif yang tinggi,
bentuk esai lebih tepat sebab di samping mudah menyusunnya juga dapat untuk
sekaligus menilai proses berpikir. Tes struktur sampai dengan tingkat analisis
bersifat diskrit dan tingkat sintesis, serta evaluasi integrative, tes kosa
kata tingkat ingatan bersifat reseptif dan diskrit. Sedangkan tingkat pemahaman
dampai analisis bersifat reseptif dan produktif yang integratif.
(Disarikan
dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan
Nurgiyantoro)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar