Selasa, 01 Oktober 2013

TES KOMPETENSI KEBAHASAAN





            Tes kompetensi kebahasaan adalah tes yang dimaksudkan untuk mengungkap pengetahuan
kebahasaan siswa. Kompetensi kebahasaan seperti yang dikemukakan sebelumnya adalah meliputi pengetahuan tentang sistem bahasa, struktur, kosa kata, dan seluruh aspek kebahasaan yang ada. Kompetensi kebahsaan perlu diajarkan dan diteskan secara khusus karena dapat dipandang sebagai prasyarat untuk menguasai kompetensi komunikatif dan atau tindak berbahasa, baik yang bersifat reseptif maupun produktif, walaupun cenderung bersifat diskrit. Tes ini dapat juga bersifat integratif, tetapi biasanya masih bersifat artifisial.
            Tes kompetensi kebahasaan yang terpenting karena sangat dibutuhkan dalam tindak berbahasa adalah struktur dan kosa kata. Penyusunan tes untuk keduanya hendaknya dengan mempertimbangkan masalah pemilihan bahan dan pemilihan bentuk dan strategi untuk mengungkap tingkatan-tingkatan aspek kognitif. Pemilihan bahan yang diteskan hendaknya bersifat mewakili bahan yang telah diajarkan agar alat tes yang dihasilkan dapat diharapkan memberikan informasi yang bias dipertanggungjawabkan.
            Pemilihan bahan untuk tes struktur hendaknya dipertimbangkan dari segi tingkat dan jenis sekolah, isi kurikulum, dan buku pelajaran, tujuan tes, serta status bahasa yang diajarkan.  Hal-hal tersebut juga berlaku dalam pemilihan bahasn tes kosa kata. Di samping itu perlu adanya pertimbangan dari segi tingkat kesulitan kata, kosa kata pasif dan aktif, umum, khusus, dan ungkapan-ungkapan.
            Tingkat kesulitan kata ditentukan berdasarkan kekerapan pemakaian suatu kata, walau cara ini hanya diambil dari data tertulis saja, bahan yang berbeda-beda, dan tidak mengabaikan adanya berbagai dimensi makna dalam sebuah kata. Penyusuanan tes struktur dan kosa kata hendaknya meliputi berbagai tingkatan kognitif Bloom, dan jangan hanya sampai beberapa tingkatan awal saja. Tes struktur dapat meliputi tingkat ingatan (C1) dampai tingkat evaluasi (C6). Sedangkan untuk tes kosa kata, dengan pertimbangan tertentu, sampai pada tingkatan analisis (C4).
            Pembedaan bahan untuk keenam tingkatan kognitif terutama di tentukan oleh kompleksitas bahan dan aktivitas kognitif yang dituntut untuk mengerjakan butir-butir tes yang bersangkutan. Kecenderungan membuat soal yang hanya bersifat ingatan hendaknya dibatasi karena hanya mempu mengungkap kemampuan kognitif yang sederhana, mudah dilupakan, bersifat dangkal, dan belum tentu siswa dapat memahaminya sungguh-sungguh. Tes tingkat ini hanya berupa penyebutan definisi dan fakta.
            Erbagai tingkat kognitif tes struktur dan kosa kata pada prinsipnya disusun dalam tes bentuk objektif dan esai. Akan tetapi, untuk tingkatan kognitif yang tinggi, bentuk esai lebih tepat sebab di samping mudah menyusunnya juga dapat untuk sekaligus menilai proses berpikir. Tes struktur sampai dengan tingkat analisis bersifat diskrit dan tingkat sintesis, serta evaluasi integrative, tes kosa kata tingkat ingatan bersifat reseptif dan diskrit. Sedangkan tingkat pemahaman dampai analisis bersifat reseptif dan produktif yang integratif.

(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)
               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar