Jumat, 06 Desember 2013

EVALUASI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA (Tugas)



Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini secara singkat dan tepat!

1.        Jelaskan apa yang dimaksud dengan validitas sebuah alat ukur.
2.        Sebutkan jenis-jenis validitas yang dapat digunakan dalam menguji validitas alat ukur Bahasa Indonesia.
3.        Jelaskan yang dimaksud validitas isi.
4.        Jelaskan yang dimaksud validitas konstruk.
5.        Jelaskan yang dimaksud validitas ukuran.
6.        Jelaskan yang dimaksud validitas sejalan.
7.        Jelaskan yang dimaksud validitas ramalan.
8.        Jelaskan yang dimaksud validitas butir soal.

Jumat, 11 Oktober 2013

SANGGAR BAHASA

(Kelas E1, E2, E3, E4, dan E7)

Bacalah beberapa referensi (buku atau artikel) keterampilan menulis.
  1. Jelaskan pengertian poster.
  2. Jelaskan ciri poster yang baik.
  3. Jelaskan langkah membuat poster.
  4. Buatlah (secara berkelompok (3 orang) sebuah poster  (digital printing) dengan pilihan tema pendidikan karakter, cinta bahasa dan sastra Indonesia, lingkungan/alam, atau profesi guru)


Selasa, 08 Oktober 2013

SANGGAR SASTRA

Tugas I (Kelas D2 dan D3)

1. Carilah sebuah dongeng atau cerita rakyat.
2. Baca dan berlatihlah membacakan dongeng atau cerita rakyat yang didapat.
3. Lakukanlah perekaman pengalaman membacakan dongeng atau cerita rakyat secara berkelompok.
   (Tiap anggota kelompok berpengalaman membacakan dongeng)

Jumat, 04 Oktober 2013

EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA



Tugas untuk Kelas D1 dan D4

Kerjakanlah soal berikut dengan tepat.
1.      Jelaskan hubungan tujuan, evaluasi, dan hasil pembelajaran.
2.   Cari atau buatlah masing-masing sebuah contoh butir soal berdasarkan pendekatan diskrit, integratif, pragmatik, dan komunikatif.


Selasa, 01 Oktober 2013

TES KOMPETENSI KEBAHASAAN





            Tes kompetensi kebahasaan adalah tes yang dimaksudkan untuk mengungkap pengetahuan
kebahasaan siswa. Kompetensi kebahasaan seperti yang dikemukakan sebelumnya adalah meliputi pengetahuan tentang sistem bahasa, struktur, kosa kata, dan seluruh aspek kebahasaan yang ada. Kompetensi kebahsaan perlu diajarkan dan diteskan secara khusus karena dapat dipandang sebagai prasyarat untuk menguasai kompetensi komunikatif dan atau tindak berbahasa, baik yang bersifat reseptif maupun produktif, walaupun cenderung bersifat diskrit. Tes ini dapat juga bersifat integratif, tetapi biasanya masih bersifat artifisial.
            Tes kompetensi kebahasaan yang terpenting karena sangat dibutuhkan dalam tindak berbahasa adalah struktur dan kosa kata. Penyusunan tes untuk keduanya hendaknya dengan mempertimbangkan masalah pemilihan bahan dan pemilihan bentuk dan strategi untuk mengungkap tingkatan-tingkatan aspek kognitif. Pemilihan bahan yang diteskan hendaknya bersifat mewakili bahan yang telah diajarkan agar alat tes yang dihasilkan dapat diharapkan memberikan informasi yang bias dipertanggungjawabkan.
            Pemilihan bahan untuk tes struktur hendaknya dipertimbangkan dari segi tingkat dan jenis sekolah, isi kurikulum, dan buku pelajaran, tujuan tes, serta status bahasa yang diajarkan.  Hal-hal tersebut juga berlaku dalam pemilihan bahasn tes kosa kata. Di samping itu perlu adanya pertimbangan dari segi tingkat kesulitan kata, kosa kata pasif dan aktif, umum, khusus, dan ungkapan-ungkapan.
            Tingkat kesulitan kata ditentukan berdasarkan kekerapan pemakaian suatu kata, walau cara ini hanya diambil dari data tertulis saja, bahan yang berbeda-beda, dan tidak mengabaikan adanya berbagai dimensi makna dalam sebuah kata. Penyusuanan tes struktur dan kosa kata hendaknya meliputi berbagai tingkatan kognitif Bloom, dan jangan hanya sampai beberapa tingkatan awal saja. Tes struktur dapat meliputi tingkat ingatan (C1) dampai tingkat evaluasi (C6). Sedangkan untuk tes kosa kata, dengan pertimbangan tertentu, sampai pada tingkatan analisis (C4).
            Pembedaan bahan untuk keenam tingkatan kognitif terutama di tentukan oleh kompleksitas bahan dan aktivitas kognitif yang dituntut untuk mengerjakan butir-butir tes yang bersangkutan. Kecenderungan membuat soal yang hanya bersifat ingatan hendaknya dibatasi karena hanya mempu mengungkap kemampuan kognitif yang sederhana, mudah dilupakan, bersifat dangkal, dan belum tentu siswa dapat memahaminya sungguh-sungguh. Tes tingkat ini hanya berupa penyebutan definisi dan fakta.
            Erbagai tingkat kognitif tes struktur dan kosa kata pada prinsipnya disusun dalam tes bentuk objektif dan esai. Akan tetapi, untuk tingkatan kognitif yang tinggi, bentuk esai lebih tepat sebab di samping mudah menyusunnya juga dapat untuk sekaligus menilai proses berpikir. Tes struktur sampai dengan tingkat analisis bersifat diskrit dan tingkat sintesis, serta evaluasi integrative, tes kosa kata tingkat ingatan bersifat reseptif dan diskrit. Sedangkan tingkat pemahaman dampai analisis bersifat reseptif dan produktif yang integratif.

(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)
               
               

Senin, 30 September 2013

ALAT PENILAIAN




            Alat penilaian dapat dibedakan menjadi dua macam, teknik tes dan teknik nontes. Teknik tes dan nontes, keduanya dapat dimanfaatkan secara efektif jika dipergunakan secara tepat, dan itu tergantung dari tujuan penilaian. Teknik nontes misalnya berupa kegiatan kuisoner, wawancara, pengamatan, dan pengukuran kecenderungan tertentu dengan mempergunakan skala. Skala merupakan suatu kesatuan sebagai penanda unit-unit yang bersifat angka yang disususn secara berjenjang, tiap jenjang melambangkan sikap dan keyakinan tertentu.
            Teknik wawancara, baik wawancara secara bebas maupun terpimpin, dalam kaitannya dengan penilaian kebahasaan, dapat dipergunakan juga untuk menilai keterampilan, dan kefasihan berbicara siswa dalam bahasa yang diajarkan. Kegiatan pengamatan baik yang terstruktur maupun yang tidak berstruktur dapat dimanfaatkan untuk menilai tingkah laku hasil belajar bahasa siswa yang terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Tingkah laku dalam situasi seperti itu bersifat wajar, tidak dibuat-buat, dan lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.
            Tes adalah seperangkat tugas atau pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki seseorang atau kelompok. Dari segi jawaban siswa, tes dapat dibedakan ke dalam tes perbuatan dan tes verbal. Tes buatan guru disusun berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan deskripsi bahan yang disusun guru untuk mengukur keberhasilan siswa mancapai tujuan. Jadi, yang terpenting dapat dipertanggungjawabkan dari jenis kesahihan isi. Tes buatan guru biasanya tingkat keterpercayaannya rendah atau tidak diketahui.
            Tes standar disusun berdasarkan tujuan-tujuan umum seperti yang terdapat dalam kurikulum. Oleh karena telah mengalami beberapa kali uji coba dean revisi, tes standar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kelayakan, kesahihan, keterpercayaan, dan ketertafsiran. Tes standar berguna untuk melengkapi informasi tertentu tingkat hasil belajar siswa, membuat perbandingan prestasi siswa, dan berfungsi diagnostik.
            Tes kemampuan awal dapat dibedakan menjadi pretes, tes prasyarat, dan tes penempatan. Pretes, yaitu tes untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum mengalami proses belajar. Tes prasyarat yaitu tes yang dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tertentu yang diisyaratkan untuk pendidikan tertentu. Sementara tes penempatan adalah tes yang dimaksudkan untuk menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya.
            Jenis tes yang lain adalah tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif. Tes diagnostik merupakan tes yang dimaksudkan untuk menemukan kelemahan-kelemahan siswa dalam hal tertentu untuk kembali diremidi. Selain itu ada tes formatif, yaitu tes yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai tujuan yang berkenaan dengan pokok bahasan yang baru saja diselesaikan dalam proses belajar mengajar. Bagi guru, tes formatif dapat untuk menilai efektivitas pengajaran, sedang bagi siswa dapat berfungsi sebagai penguat. Tes sumatif dilakukan untuk mengukur kadar pencaaian siswa terhadap tujuan umum, yang meliputi seluruh bahan yang diprogramkan pada periode tertentu. Informasi tes sumatif dipergunakan untuk menentukan prestasi siswa seperti, naik-tidak, lulus-tidaknya seorang siswa, serta untuk membuat laporan kepada pihak tertentu.
            Dilihat dari aspek cara mengerjakan soal, tes dibagi menjadi tes objektif dan tes esai.tes objektif menghendaki hanya satu jawaban yang benar, maka penilaiannya dapat secara objektif, cepat, dan dapat dipercaya karena jumlah soal selain relatif banyak, tes objektif dapat mencakup bahan secara lebih menyeluruh. Tes objektif yang baik tidak mudah disusun. Penyusunan memerlukan waktu lama, dan ada kecenderungan guru hanya berpusat pada pokok bahasan dan tingkatan aspek kognitif tertentu. Dalam mengerjakannya, siswa dapat bersifat untung-untungan.
            Tes objektif dapat berupa benar-salah, pilihan ganda, melengkapi dan menjodohkan. Tes benar-salah bias dipakai karena hasil belajar yang berupa penguasaan pengetahuan verbal yang dinyatakan dalam bentuk proposisi dapat dinyatakan secara benar atau salah. Tes pilihan ganda adalah tes benar-salah  dengan pernyataan salah lebih banyak. Tes isian adalah tes pilihan ganda
Tapi siswa mengisi sendiri pilihan yang tepat. Sedangkan menjodohkan semua pernyataan yang benar dinyatakan sekaligus. Tes objektif jenis benar-salah dan pilihan ganda dapat diskor dengan rumus tanpa tebakan dan tebakan (yaitu memberlakukan semacam denda). Sedang isian dan penjodohan umumnya diskor dengan tanpa tebakan.
            Tes esai merupakan tes proses berpikir yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi. Menuntuk kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan, menganalisis, menghubungkan konsep-konsep, menilai, dan memecahkan masalah. Kelemahan tes esai adalah rendahnya kadar kesahihan dan keterpercayaan akibat terbatasnya sampel bahan, jawaban siswa yaitu bervariasi, dan penilaian yang bersifat subjektif. Untuk mengurangi sifat subjektifitas dalam penilaian, perlu ditentukan kriteria penilaian yang menyangkut isi, organisasi, proses, kesimpulan, dan alasan dengan bobot yang tidak harus sama. Selamat mencoba menyiapkan dan menggunakan alat penilaian :) 
           
(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)
 
  

TUJUAN PENGAJARAN DAN PENILAIAN




            Tujuan pengajaran memberi arah dan pegangan yang jelas, memaksa kita untuk berpijak pada kenyataan dan berpikir secara konkret. Tujuan bagi guru akan membantu untuk memilih bahan, metode, teknik, dan alat evaluasi. Bagi murid, dapat dimanfaatkan sebagai pengorganisator dan kerangka kerja untuk memperoleh ilmu. Tujuan pengajaran dan keluaran hasil belajar adalah dua hal yang erat berkaitan. Tujuan menyarankan bentuk-bentuk tertentu keluaran belajar, sebaliknya, tingkah laku keluaran belajar merupakan realisasi pencapaian tujuan.
            Keluaran belajar oleh Cagne dibedakan dalam bentuk keterampilan intelektual (yang berisi kemampuan membedakan, konsep, aturan, dan aturan tingkat tinggi), strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motor, dan sikap. Pembagian Bloom yang terkenal dengan sebutan taksonomi Bloom yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor banyak diikuti orang, termasuk kurikulum di Indonesia.
            Proses identifikasi tujuan khusus merupakan proses analisis dan identifikasi keluaran belajar. Tujuan khusus (behavior objectives) menyaran pada tingkah laku keluaran belajar yang operasional, artinya mudah diamati, diukur dengan alat penilaian. Tiap tujuan khusus harus mengandung unsur sasaran, tingkah laku yang diharapkan, kondisi sewaktu dinilai, dan kriteria keberhasilan. Tidak seperti halnya tujuan umum, tujuan khusus mempunyai cakupan bahan yang terbatas.
            Penyusunan alat penilaian harus mendasar diri pada tujuan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Alat penilaian dikatakan memenuhi kriteria kelayakan jika dapat mengukur keluaran belajar yang konsisten dengan tujuan. Tujuan akan menentukan tingkah laku guru dan murid dan bentuk keluaran belajar yang terukur.
            Bahan pengajaran merupakan pengantara tujuan dan alat penilaian, merupakan sarana tercapainya tujuan dan sumber penyusunan alat penilaian. Karena bahasn memegang peranan penting, ia perlu dideskripsikan secara terinci karena hal itu juga dapat dimanfaatkan untuk menguji kesahihan isi alat penilaian itu sendiri. Pemilihan jenis alat penilaian harus disesuaikan dengan tingkah laku keluaran belajar yang ditunjuk oleh tujuan, baik itu yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, tingkah laku efektif, maupun psikomotor. Jenis penilaian mungkin berupa lisan atau tertulis, observasi, wawancara, perbuatan, dan sebagainya.
            Tingkatan penilaian terutama dikaitkan dengan aspek kognitif yang terdiri dari tingkatan pengetahuan (ingatan), pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kegiatan penilaian umumnya hanya ditekankan pada (sampai dengan) tingkatan ingatan dan pemahaman saja. Aktivitas kognitif yang lebih tinggi tingkatannya dan lebih penting dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan justru sering tidak nampak dalam penilaian.
            Penyusunan alat penilaian seharusnya mencakup keenam tingkatan aspek kognitif itu, tetapi dengan memperhatikan perimbangan bobotnya, yaitu sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Semakin tinggi tingkat kemampuan kognitif siswa, semakin tinggi pula penilaian daya kognitif yang diberikan. Tabel spesifikasi atau kisi-kisi berisi perincian pokok bahasan yang diteskan, tingkat kemampuan kognitif yang diukur, perimbangan, dan jumlah soal per tingkatan aspek kognitif dan pokok bahasan (per sel), dan persentase atau jumlah soal pertingkatan kognitif, per pokok bahasan, dan seluruh butir soal.
            Pengisian jumlah atau bobot tiap sel dengan mempertimbangkan tingkatan aspek kognitif yang diungkap dan keadaan pokok bahasan. Pertimbangan pertama berkaitan dengan aspek kejiawaan siswa tentang tingkat perkembangan kognitifnya, yaitu yang akan dipakai untuk menentukan bobot per tingkatan aspek kognitif. Pertimbangan kedua mencakup peranan dan cakupan bahan yang dipakai untuk menentukan bobot tiap pokok bahasan.
            Tabel spesifikasi berguna untuk memberi rambu-rambu kepada penyusun alat tes agar tidak hanya memfokuskan diri pada satu atau beberapa pokok bahasan dan tingkatan-tingkatan aspek kognitif sederhana saja. Di samping itu, ia juga akan memberi petunjuk sel-sel mana saja yang terlah dibuat alat tesnya dan mana yang belum atau masih kurang.

(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)