![]() |
Tujuan
pengajaran memberi arah dan pegangan yang jelas, memaksa kita untuk berpijak
pada kenyataan dan berpikir secara konkret. Tujuan bagi guru akan membantu
untuk memilih bahan, metode, teknik, dan alat evaluasi. Bagi murid, dapat
dimanfaatkan sebagai pengorganisator dan kerangka kerja untuk memperoleh ilmu.
Tujuan pengajaran dan keluaran hasil belajar adalah dua hal yang erat
berkaitan. Tujuan menyarankan bentuk-bentuk tertentu keluaran belajar, sebaliknya,
tingkah laku keluaran belajar merupakan realisasi pencapaian tujuan.
Keluaran belajar oleh Cagne
dibedakan dalam bentuk keterampilan intelektual (yang berisi kemampuan
membedakan, konsep, aturan, dan aturan tingkat tinggi), strategi kognitif,
informasi verbal, keterampilan motor, dan sikap. Pembagian Bloom yang terkenal
dengan sebutan taksonomi Bloom yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor banyak diikuti orang, termasuk kurikulum di Indonesia.
Proses identifikasi tujuan khusus
merupakan proses analisis dan identifikasi keluaran belajar. Tujuan khusus
(behavior objectives) menyaran pada tingkah laku keluaran belajar yang
operasional, artinya mudah diamati, diukur dengan alat penilaian. Tiap tujuan
khusus harus mengandung unsur sasaran, tingkah laku yang diharapkan, kondisi
sewaktu dinilai, dan kriteria keberhasilan. Tidak seperti halnya tujuan umum,
tujuan khusus mempunyai cakupan bahan yang terbatas.
Penyusunan alat penilaian harus
mendasar diri pada tujuan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Alat
penilaian dikatakan memenuhi kriteria kelayakan jika dapat mengukur keluaran
belajar yang konsisten dengan tujuan. Tujuan akan menentukan tingkah laku guru
dan murid dan bentuk keluaran belajar yang terukur.
Bahan pengajaran merupakan
pengantara tujuan dan alat penilaian, merupakan sarana tercapainya tujuan dan
sumber penyusunan alat penilaian. Karena bahasn memegang peranan penting, ia
perlu dideskripsikan secara terinci karena hal itu juga dapat dimanfaatkan
untuk menguji kesahihan isi alat penilaian itu sendiri. Pemilihan jenis alat
penilaian harus disesuaikan dengan tingkah laku keluaran belajar yang ditunjuk
oleh tujuan, baik itu yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, tingkah laku
efektif, maupun psikomotor. Jenis penilaian mungkin berupa lisan atau tertulis,
observasi, wawancara, perbuatan, dan sebagainya.
Tingkatan penilaian terutama
dikaitkan dengan aspek kognitif yang terdiri dari tingkatan pengetahuan
(ingatan), pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kegiatan
penilaian umumnya hanya ditekankan pada (sampai dengan) tingkatan ingatan dan
pemahaman saja. Aktivitas kognitif yang lebih tinggi tingkatannya dan lebih
penting dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan justru sering tidak nampak
dalam penilaian.
Penyusunan alat penilaian seharusnya
mencakup keenam tingkatan aspek kognitif itu, tetapi dengan memperhatikan
perimbangan bobotnya, yaitu sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.
Semakin tinggi tingkat kemampuan kognitif siswa, semakin tinggi pula penilaian
daya kognitif yang diberikan. Tabel spesifikasi atau kisi-kisi berisi perincian
pokok bahasan yang diteskan, tingkat kemampuan kognitif yang diukur,
perimbangan, dan jumlah soal per tingkatan aspek kognitif dan pokok bahasan
(per sel), dan persentase atau jumlah soal pertingkatan kognitif, per pokok
bahasan, dan seluruh butir soal.
Pengisian jumlah atau bobot tiap sel
dengan mempertimbangkan tingkatan aspek kognitif yang diungkap dan keadaan
pokok bahasan. Pertimbangan pertama berkaitan dengan aspek kejiawaan siswa
tentang tingkat perkembangan kognitifnya, yaitu yang akan dipakai untuk
menentukan bobot per tingkatan aspek kognitif. Pertimbangan kedua mencakup
peranan dan cakupan bahan yang dipakai untuk menentukan bobot tiap pokok
bahasan.
Tabel spesifikasi berguna untuk
memberi rambu-rambu kepada penyusun alat tes agar tidak hanya memfokuskan diri
pada satu atau beberapa pokok bahasan dan tingkatan-tingkatan aspek kognitif
sederhana saja. Di samping itu, ia juga akan memberi petunjuk sel-sel mana saja
yang terlah dibuat alat tesnya dan mana yang belum atau masih kurang.
(Disarikan dari Buku Penilaian dalam
Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar