Senin, 30 September 2013

ALAT PENILAIAN




            Alat penilaian dapat dibedakan menjadi dua macam, teknik tes dan teknik nontes. Teknik tes dan nontes, keduanya dapat dimanfaatkan secara efektif jika dipergunakan secara tepat, dan itu tergantung dari tujuan penilaian. Teknik nontes misalnya berupa kegiatan kuisoner, wawancara, pengamatan, dan pengukuran kecenderungan tertentu dengan mempergunakan skala. Skala merupakan suatu kesatuan sebagai penanda unit-unit yang bersifat angka yang disususn secara berjenjang, tiap jenjang melambangkan sikap dan keyakinan tertentu.
            Teknik wawancara, baik wawancara secara bebas maupun terpimpin, dalam kaitannya dengan penilaian kebahasaan, dapat dipergunakan juga untuk menilai keterampilan, dan kefasihan berbicara siswa dalam bahasa yang diajarkan. Kegiatan pengamatan baik yang terstruktur maupun yang tidak berstruktur dapat dimanfaatkan untuk menilai tingkah laku hasil belajar bahasa siswa yang terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Tingkah laku dalam situasi seperti itu bersifat wajar, tidak dibuat-buat, dan lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.
            Tes adalah seperangkat tugas atau pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki seseorang atau kelompok. Dari segi jawaban siswa, tes dapat dibedakan ke dalam tes perbuatan dan tes verbal. Tes buatan guru disusun berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan deskripsi bahan yang disusun guru untuk mengukur keberhasilan siswa mancapai tujuan. Jadi, yang terpenting dapat dipertanggungjawabkan dari jenis kesahihan isi. Tes buatan guru biasanya tingkat keterpercayaannya rendah atau tidak diketahui.
            Tes standar disusun berdasarkan tujuan-tujuan umum seperti yang terdapat dalam kurikulum. Oleh karena telah mengalami beberapa kali uji coba dean revisi, tes standar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kelayakan, kesahihan, keterpercayaan, dan ketertafsiran. Tes standar berguna untuk melengkapi informasi tertentu tingkat hasil belajar siswa, membuat perbandingan prestasi siswa, dan berfungsi diagnostik.
            Tes kemampuan awal dapat dibedakan menjadi pretes, tes prasyarat, dan tes penempatan. Pretes, yaitu tes untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum mengalami proses belajar. Tes prasyarat yaitu tes yang dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tertentu yang diisyaratkan untuk pendidikan tertentu. Sementara tes penempatan adalah tes yang dimaksudkan untuk menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya.
            Jenis tes yang lain adalah tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif. Tes diagnostik merupakan tes yang dimaksudkan untuk menemukan kelemahan-kelemahan siswa dalam hal tertentu untuk kembali diremidi. Selain itu ada tes formatif, yaitu tes yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai tujuan yang berkenaan dengan pokok bahasan yang baru saja diselesaikan dalam proses belajar mengajar. Bagi guru, tes formatif dapat untuk menilai efektivitas pengajaran, sedang bagi siswa dapat berfungsi sebagai penguat. Tes sumatif dilakukan untuk mengukur kadar pencaaian siswa terhadap tujuan umum, yang meliputi seluruh bahan yang diprogramkan pada periode tertentu. Informasi tes sumatif dipergunakan untuk menentukan prestasi siswa seperti, naik-tidak, lulus-tidaknya seorang siswa, serta untuk membuat laporan kepada pihak tertentu.
            Dilihat dari aspek cara mengerjakan soal, tes dibagi menjadi tes objektif dan tes esai.tes objektif menghendaki hanya satu jawaban yang benar, maka penilaiannya dapat secara objektif, cepat, dan dapat dipercaya karena jumlah soal selain relatif banyak, tes objektif dapat mencakup bahan secara lebih menyeluruh. Tes objektif yang baik tidak mudah disusun. Penyusunan memerlukan waktu lama, dan ada kecenderungan guru hanya berpusat pada pokok bahasan dan tingkatan aspek kognitif tertentu. Dalam mengerjakannya, siswa dapat bersifat untung-untungan.
            Tes objektif dapat berupa benar-salah, pilihan ganda, melengkapi dan menjodohkan. Tes benar-salah bias dipakai karena hasil belajar yang berupa penguasaan pengetahuan verbal yang dinyatakan dalam bentuk proposisi dapat dinyatakan secara benar atau salah. Tes pilihan ganda adalah tes benar-salah  dengan pernyataan salah lebih banyak. Tes isian adalah tes pilihan ganda
Tapi siswa mengisi sendiri pilihan yang tepat. Sedangkan menjodohkan semua pernyataan yang benar dinyatakan sekaligus. Tes objektif jenis benar-salah dan pilihan ganda dapat diskor dengan rumus tanpa tebakan dan tebakan (yaitu memberlakukan semacam denda). Sedang isian dan penjodohan umumnya diskor dengan tanpa tebakan.
            Tes esai merupakan tes proses berpikir yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi. Menuntuk kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan, menganalisis, menghubungkan konsep-konsep, menilai, dan memecahkan masalah. Kelemahan tes esai adalah rendahnya kadar kesahihan dan keterpercayaan akibat terbatasnya sampel bahan, jawaban siswa yaitu bervariasi, dan penilaian yang bersifat subjektif. Untuk mengurangi sifat subjektifitas dalam penilaian, perlu ditentukan kriteria penilaian yang menyangkut isi, organisasi, proses, kesimpulan, dan alasan dengan bobot yang tidak harus sama. Selamat mencoba menyiapkan dan menggunakan alat penilaian :) 
           
(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)
 
  

TUJUAN PENGAJARAN DAN PENILAIAN




            Tujuan pengajaran memberi arah dan pegangan yang jelas, memaksa kita untuk berpijak pada kenyataan dan berpikir secara konkret. Tujuan bagi guru akan membantu untuk memilih bahan, metode, teknik, dan alat evaluasi. Bagi murid, dapat dimanfaatkan sebagai pengorganisator dan kerangka kerja untuk memperoleh ilmu. Tujuan pengajaran dan keluaran hasil belajar adalah dua hal yang erat berkaitan. Tujuan menyarankan bentuk-bentuk tertentu keluaran belajar, sebaliknya, tingkah laku keluaran belajar merupakan realisasi pencapaian tujuan.
            Keluaran belajar oleh Cagne dibedakan dalam bentuk keterampilan intelektual (yang berisi kemampuan membedakan, konsep, aturan, dan aturan tingkat tinggi), strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motor, dan sikap. Pembagian Bloom yang terkenal dengan sebutan taksonomi Bloom yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor banyak diikuti orang, termasuk kurikulum di Indonesia.
            Proses identifikasi tujuan khusus merupakan proses analisis dan identifikasi keluaran belajar. Tujuan khusus (behavior objectives) menyaran pada tingkah laku keluaran belajar yang operasional, artinya mudah diamati, diukur dengan alat penilaian. Tiap tujuan khusus harus mengandung unsur sasaran, tingkah laku yang diharapkan, kondisi sewaktu dinilai, dan kriteria keberhasilan. Tidak seperti halnya tujuan umum, tujuan khusus mempunyai cakupan bahan yang terbatas.
            Penyusunan alat penilaian harus mendasar diri pada tujuan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Alat penilaian dikatakan memenuhi kriteria kelayakan jika dapat mengukur keluaran belajar yang konsisten dengan tujuan. Tujuan akan menentukan tingkah laku guru dan murid dan bentuk keluaran belajar yang terukur.
            Bahan pengajaran merupakan pengantara tujuan dan alat penilaian, merupakan sarana tercapainya tujuan dan sumber penyusunan alat penilaian. Karena bahasn memegang peranan penting, ia perlu dideskripsikan secara terinci karena hal itu juga dapat dimanfaatkan untuk menguji kesahihan isi alat penilaian itu sendiri. Pemilihan jenis alat penilaian harus disesuaikan dengan tingkah laku keluaran belajar yang ditunjuk oleh tujuan, baik itu yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, tingkah laku efektif, maupun psikomotor. Jenis penilaian mungkin berupa lisan atau tertulis, observasi, wawancara, perbuatan, dan sebagainya.
            Tingkatan penilaian terutama dikaitkan dengan aspek kognitif yang terdiri dari tingkatan pengetahuan (ingatan), pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kegiatan penilaian umumnya hanya ditekankan pada (sampai dengan) tingkatan ingatan dan pemahaman saja. Aktivitas kognitif yang lebih tinggi tingkatannya dan lebih penting dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan justru sering tidak nampak dalam penilaian.
            Penyusunan alat penilaian seharusnya mencakup keenam tingkatan aspek kognitif itu, tetapi dengan memperhatikan perimbangan bobotnya, yaitu sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Semakin tinggi tingkat kemampuan kognitif siswa, semakin tinggi pula penilaian daya kognitif yang diberikan. Tabel spesifikasi atau kisi-kisi berisi perincian pokok bahasan yang diteskan, tingkat kemampuan kognitif yang diukur, perimbangan, dan jumlah soal per tingkatan aspek kognitif dan pokok bahasan (per sel), dan persentase atau jumlah soal pertingkatan kognitif, per pokok bahasan, dan seluruh butir soal.
            Pengisian jumlah atau bobot tiap sel dengan mempertimbangkan tingkatan aspek kognitif yang diungkap dan keadaan pokok bahasan. Pertimbangan pertama berkaitan dengan aspek kejiawaan siswa tentang tingkat perkembangan kognitifnya, yaitu yang akan dipakai untuk menentukan bobot per tingkatan aspek kognitif. Pertimbangan kedua mencakup peranan dan cakupan bahan yang dipakai untuk menentukan bobot tiap pokok bahasan.
            Tabel spesifikasi berguna untuk memberi rambu-rambu kepada penyusun alat tes agar tidak hanya memfokuskan diri pada satu atau beberapa pokok bahasan dan tingkatan-tingkatan aspek kognitif sederhana saja. Di samping itu, ia juga akan memberi petunjuk sel-sel mana saja yang terlah dibuat alat tesnya dan mana yang belum atau masih kurang.

(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)
  

PENDAHULUAN



            Pendidikan dan pengajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses mencapai tujuan. Penilaian yang dimaksudkan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan itu, yang dengan sendirinya juga harus merupakan suatu proses. Penilaian hendaknya dilakukan secara berkesinambungan selama berlangsungnya kegiatan pengajaran.
Add caption
            Penilaian berurusan dengan data kuantitatif dan kualitatif. Sedang pengukuran yang hanya merupakan bagian penilaian itu selalu berhubungan dengan data kuantitatf. Penilaian  memerlukan data kuantitatif fari pengukuran. Sebaliknya, pengukuran juga sangat terikat pada penilaian khusus yang berkaitan dengan masalah tujuan dan kriteria yang dipergunakan.
            Penilaian adalah proses memperoleh dan mempergunakan informasi untuk membuat pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar pengambilan informasi. Dengan demikian, terdapat tiga komponen penting dalam penilaian, yaitu informasi, pertimbangan, dan keputusan. Informasi memberikan data-data (baik kuantitatif maupun kualitatif) yang berhuna untuk pebuatan pertimbangan. Pertimbangan dimungkinkan tepat jika informasi yang diperoleh dan interpretasi terhadapnya juga tepat. Pertimbangan adalah taksiran kondisi yang ada kini dan prediksi harapan pada masa mendatang. Keputusan yang diambil berdasarkan kedua komponen tersebut adalah pilihan di antara berbagai arah tindakan atau sejumlah alternatif yang ada.
            Langkah-langkah penilaian menurut Buchori (1972) adalah persiapan (berisi penetapan tujuan, aspek yang dinilai, metode, penyusunan alat, penetapan kriteria, dan frekuensi penilaian), pengumpulan data, pengolahan data hasil penilaian, penafsiran, dan penggunaan hasil. Langkah-langkah penilaian menurut Ten Brink (1974) terdiri dari tahap persipan berupa pemerincian pertimbangan dan keputusan yang akan dibuat, informasi yang diperlukan dan pemanfaatan yang ada, penentuan waktu dan cara, dan penyusunan alat, tahap penilaian yang berupa pembuatan pertimbangan dan keputusan, dan diteruskan dengan pembuatan laporan hasil penilaian.
            Tujuan dan fungsi penilaian antara lain adalah untuk mengetahui kadarpencapaian tujuan, memberikan sifat objektivitas pengamatan, tingkah laku hasil belajar siswa, mengetahui kemampuan siswa dalam hal-hal tertentu, menentukan layak-tidaknya seorang siswa dinyatakan naik kelas atau lulus, dan untuk memberikan umpan balik bagi kegiatan belajar mengajar yang dilakukan. Pengukuran dilakukan hanya dengan mengambil sampel tentang suatu hal yang akan diketahui karena tak mungkin mengukur semua kemampuan siswa, dan siswa tak mungkin menunjukkan semua kemampuannya.

(Disarikan dari Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra karya Burhan Nurgiyantoro)